Tohpati Ethnomission
Tohpati Ethnomission adalah formasi terbaru dari gitaris Tohpati yang memadukan Jazz dengan elemen etnik Indonesia.
Sepintas embel-embel “mission” segera berasosiasi dengan “Trance/Mission”, judul album simakDialog (2002) di peralihan adopsi penuh kendang Sunda pada seksi ritme. Tohpati yang termasuk pentolannya menghadirkan corak peralihan tersebut pada album solo terbarunya, lewat permainan kendang Endang Ramdan komplementer terhadap tabuh drum Demas Narawangsa. Begitu didengarkan, warna distorsi, manipulasi pedal ekspresi, hingga aksen lengking yang serupa pun mengkonfirmasi jalinan tersebut. Bisa dikatakan kelompok ini menjadi preferensi gitaris papan atas ini pada kreasi bernunsa tradisi sekaligus kocokan (strumming) funk yang sarat syncopated rhythm.
Tohpati Ethnomission baru saja tampil dalam sebuah acara di Brazil. Album mereka juga sudah dirilis oleh sebuah label rekaman di Amerika Serikat.
Materi kelompok ini sesuai namanya memuat banyak elemen etnik. Seperti karya tutur cerita “Bedhaya Ketawang” yang menonjolkan suling Diki Suwarjiki dalam balada kontemplatif. “New Inspiration” menampilkan fitur bassist Indro Hardjodikoro sebagai versi baru dari album “It’s Time” (2008) yang memuatnya sebagai medley “Kata Hati (Inspiration)” pada bagian improvisasi duet drum-gitar. Aksi kendang-drum diberi slot pada “Perang Tanding” yang mewujudkan salah satu babak pertunjukkan wayang, dengan “Gegunungan” di babak lainya bagi duet gitar (plus synth) dengan kendang. Apalagi yang lebih tepat mengakhiri guitar-vaganza selain sedikit sentuhan country twang/chicken pluck dalam keriangan “Pesta Rakyat”.
Menonton Tohpati Ethnomission dari ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut akan menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan.
Glenn Fredly
Glenn Fredly Deviano Latuihamallo (lahir di Ambon, Maluku, 30 September 1975; umur 35 tahun; lebih dikenal dengan Glenn Fredly). Kariernya bermula saat menjadi vokalis Funk Section. Glenn bernyanyi solo dan meluncurkan beberapa hits seperti “Kau”, “Cukup Sudah”, “Kasih Putih” dan banyak lagi lainnya.
Bersama dengan Indonesian Voices, Glenn ikut menyanyikan lagu “Rumah Kita” dalam album “Tribute untuk Ian Antono”. Glenn berkolaborasi dengan Tohpati, menyanyikan lagu “Jejak Langkah”.
Pria berdarah Ambon ini merilis album antara lain
- Glenn (1998)
- Kembali (2000)
- Selamat Pagi, Dunia! (2002)
- Ost. Cinta Silver (2005)
- Aku & Wanita (2006)
- Terang (2006)
- Happy Sunday (2007)
- Private Collection (2008)
- Lovevolution (2010)
Glenn menjadi pembimbing bagi grup vokal Pasto dalam sebuah acara pencarian bakat di Trans TV. Pasto memenangi kontes tersebut.
Pada awal tahun 2005, Glenn menciptakan lagu “Kita untuk Mereka”, yang didedikasikan untuk korban Tsunami di Aceh. Lagu tersebut dinyanyikan oleh kelompok bernama “Indonesian Voices”, terdiri dari penyanyi-penyanyi Indonesia, termasuk almarhum Gito Rollies, Harvey Malaiholo, Rio Febrian, Duta Sheila on 7, Fadly Padi, Kikan Cokelat, Ahhmad Albar, Vina Panduwinata, Baim, Delon, Tia AFI, Ruth Sahanaya, Syahrani, Ubiet, dan lain-lain.
Di album kesepuluh Glenn menjagokan single Cuma Kamu. Ia sempat menggelar konser di Esplanade, Singapura 6 Februari 2010.
Kua Etnika
Komposisi musik “Merapi Horeg” yang diinspirasi keganasan gunung Merapi karya Djaduk Ferianto, menjadi salah satu komposisi unggulan dalam pentas “Nusa Swara” di Gedung Kesenian Jakarta beberapa bulan lalu. Karya yang diciptakan Djaduk tahun 1997 ini menafsir keagungan, kemurahan dan sekaligus keganasan gunung yang belum lama ini memuntahkan lahar panas dan membinaskan sejumlah desa di wilayah Kabupaten Sleman.
“Nusa Swara boleh dibilang sebuah upaya kreatif kami, untuk kembali menafsir dan memaknai apa yang dulu kerap digembar-gemborkan sebagai ‘wawasan nusantara’. Nusa Swara, sebagai judul sesungguhnya mengacu pada ‘nusa’ sebagai sebagai entitas kebangsaan, dan ‘swara’ atau suara yang mencoba membunyikan semangat dari ke-nusa-an itu. Dengan begitu, ia sesungguhnya mengacu atau bermain-main dengan idiom Nusantara sebagai sebuah wawasan dan kawasan itu,” kata Djaduk.
Semua komposisi dalam Nusa Swara sudah dipersiapkan sejak sekitar setahun lalu. “Selama proses pengerjaan komposisi itulah, kami merasakan ada sesuatu yang urgen dan mendesak untuk direfleksikan kembali, yakni soal Nusantara. Baik sebagai gagasan, semangat, bahkan impian. Dengan Nusa Swara inilah kami ingin membentangkan kembali kawasan kebudayaan Nusantara yang multikultural, beragam, luas dan besar. Karena yang dibutuhkan adalah semangat yang toleran, saling berdialog atar beudaya itu. Itulah yang kami oolah dalam komposisi-komposisi kami: semacam dialog berbagai bunyi dan sura yang dating dari berbagai penjuru budaya di Nusantara ini. Sangat eman-eman, amat sayang, kalau semua itu tidak menjadi kesadaran kita. Karena menurut saya, ‘kedaulatan kebudayaan’ juga perlu, agar kita bisa makin sejajar dengan bangsa-bangsa dunia. Agar kita tak dilecehkan Negara tetangga, misalnya. Nusa Swara, mencoba “menyuarakan” kegelisahan kami itu melalui tetabuhan dan bunyi, memalui musih kami,” kata Djaduk Ferianto lagi.
Nomor-nomor komposisi yang akan dimainkan adalah Tresnaning Tiyang, Bromo, Merapi Horeg, Matahari, Cilik, Kennanemi, Sintren, Kembang Boreh, Nirwana, Reog, Ronggeng to Latinos, Bromo, Reog\ dan Sintren.
Sejak berdiri tahun 1995, Kua Etnika telah menempatkan diri sebagai salah satu kelompok musi yang tekun mengolah khasanah musik etnis dengan semangat kontemprer. Kua Etnika sudah menghasilkan beberapa album, antara lain Nang Ning Nong Orkes Sumpeg, Ritus Swara, Unen Unen. Kua Etnikla juga telah menghasilkan album hasil kolaborasi dengan pemusik-pemusik manca negara, antara lain dengan para pemusik Malaysia yang menghasilkan konser Many Skin. Dan tahun 2003 lalu berproses dengan grup Pata Masters dari Jerman dan menghasilkan Pata Java. Kua Etnika juga banyakterlibat dalam pentas-pentas musik di banyak negara, seperti Swiss, Australia, Jerman, Belanda, Ceko dll.
Apakah Kua Etnika akan menyajikan Nusa Swara dalam penampilan mereka di Jazz Gunung edisi ketiga tahun ini, mari sama-sama hadir di Java Banana Bromo 9 Juli 2011.
Trie Utami
Iie mengenal musik sejak kecil. Rumah mereka selalu dipenuhi suara Pat Boone, Glen Muller, Perry Como, serta berbagai lagu klasik yang diputar lewat piringan hitam. Sejak tahun 1972-1986, bersama kedua kakanya, Purwa Tjaraka dan Thea Ika Ratna, Iie berlatih piano.
Awal karier profesional Iie adalah saat dia ‘dilamar’ oleh Krakatau, grup band beraliran jazz yang sangat masyhur saat itu.Bersama Krakatau, Iie membuat album pertamanya tahun 1986 bertajuk First Album. Meskipun demikian, nama Iie mulai dikenal saat menjadi pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors (1987) membawakan lagu “Keraguan”, karya Edwin Saladin dan Adelansyah. Iie juga berhasil menjuarai Festival Penyanyi Lagu Populer Indonesia, tahun 1989.
Sejumlah Iie yang sempat menjadi hit, antara lain “Kau Datang”, “Untuk Ayah dan Ibu” (ciptaannya sendiri), serta “Nurlela 1″ dan “Nurlela 2″. Yang terakhir ini dinyanyikannya berempat bareng Vina Panduwinata, Atiek CB, dan Malyda, yang tergabung dalam kelompok Rumpies.
Beberapa tahun terakhir Trie Utami aktif terlibat dengan kegiatan musik bersama Djaduk Ferianto dan kawan-kawan Kua Etnika.
Who are we?
Jazz Gunung diprakarsai oleh Sigit Pramono, seorang penggemar musik jazz dan pehobi fotografi, yang pada saat ini sedang melakukan upaya “rebranding” kawasan wisata Bromo agar Bromo tidak hanya dikenal karena keindahan matahari terbitnya saja.
Read more about us...
Comments from visitors
Music is very nice. It is fortunate that I'm in Bromo, so I can see this wonderful eventGeorge - USA
This jazz concert is really interesting. Very unique and impressive. I suggest to make it yearly agenda.Natascha - France
Jazz Gunung untuk mendekatkan pecinta musik dengan harmoni alam dan keindahan kawasan Gunung BromoHilda Sabri Sulistyo - Indonesian Circle

