Penyelenggaraan Jazz Gunung berangkat dari beberapa pemikiran mendasar. Antara lain dari aspek pariwisata dimana Bromo termasuk dari tiga destinasi emas ”Tiga B” yaitu Borobudur-Bromo dan Bali. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah peristiwa bom Bali dan kemudian disusul situasi perekonomian yang kurang baik, kondisi pariwisata sempat ikut terkena imbasnya. Kondisi kepariwisataan Borobudur (termasuk Yogyakarta, Surakarta dan sekitarnya), dan Bali kini relatif telah pulih kembali. Sedangkan Bromo, masih terhitung sepi dan cenderung dilewatkan oleh wisatawan.
Jika pun dikunjungi, wisatawan, mereka hanya sekadar singgah sementara alias mampir. Masa tinggal atau length of stay dari wisatawan tidak lebih dari 24 jam. Mereka datang pada siang atau sore, kemudian bermalam untuk kemudian menikmati matahari terbit pada dini hari. Kemudian mereka meninggalkan Bromo pada pagi hari.
Dari situasi tersebut, perlu dicari upaya agar wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak di Bromo. Ini sesuai dengan kiat penanganan pariwisata ”Stay longer, spend more.” Penyelenggaraan Jazz Gunung diharapkan bisa menahan pengunjung untuk tinggal lebih lama di Kawasan Bromo yang termasuk Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
Penyelenggaraan Jazz Gunung juga dirancang sebagai upaya untuk memberi alternatif pesona guna menarik minat masyarakat berkunjung ke Bromo. Selama ini Bromo lebih dipromosikan sebagai tempat untuk menikmati panorama matahari terbit yang terindah di dunia. Harus diakui, sensasi peristiwa matahari terbit memang menjadi pesona utama Bromo yang telah mendunia. Bahkan oleh situs Lonely Planet, Bromo pernah dinilai sebagai wisata gunung terindah ke tiga dunia setelah Gunung Olympia di Yunani, Gunung Elbrus, Russia. Urutan ke empat terpilih Gunung Fuji, Jepang.
Akan tetapi, dalam kondisi pariwisata di Bromo saat ini, tampaknya perlu dipromosikan alternatif pesona wisata lain selain keindahan matahari terbit. Jazz Gunung adalah salah satu alternatif tersebut. Hal ini mengingat Bromo kurang memiliki kompleksitas budaya seperti yang tumbuh di Bali atau sekitar Borobudur. Bromo, misalnya, belum ada kesenian khusus yang menjadi karakteristik lokal yang bisa menarik minat kunjungan wisatawan.
Bromo dipilih karena beberapa pertimbangan. Selain pertimbangan personal, emosional penggagasnya yang tersentuh oleh lansekap alam Bromo, lokasi Bromo juga strategis. Dalam pengertian Bromo mudah dicapai dengan sarana transportasi. Dari Bandara Juanda, Surabaya, atau Bandara Abdurachman Saleh di Malang, Bromo bisa dicapai dalam waktu sekitar 3 jam.
