Dengan sifat dan tabiat yang sangat terbuka dan akomodatif itulah Jazz Gunung membuka setiap kemungkinan kreatif untuk bereksplorasi. Kua Etnika dari Djaduk Ferianto dan kawan-kawan adalah salah satu yang mencoba untuk bereksplorasi dengan mendialogkan elemen musik tradisi dari beragam latar etnis.

Dikotomi jazz dan bukan jazz menjadi tidak berlaku. Dikotomi tersebut hanya akan membuat jazz mandek pada satu jenis tertentu yang hanya disukai oleh orang-orang tertentu pula. Jazz Gunung membuka ruang seluas-luasnya bagi dialog yang kreatif, eksploratif untuk siapa saja dan bebas dari tuduhan ataupun stigma ”bukan jazz.”

Seniman terbuka untuk bermain sebebas-bebasnya tanpa rasa takut dikatakan salah kaprah karena jazz adalah “kesalahkaprahan” yang indah . Dari aspek ini, Jazz Gunung diharapkan memberi kontribusi pada perkembangan jazz.

Kekayaan etnis di sekitar kawasan Bromo atau dari wilayah manapun sangat dimungkinkan untuk berinteraksi dalam Jazz Gunung. Jazz mempunyai nature atau tabiat interaktif dan berdialog dengan kultur setempat. Sejarah membuktikan, ketika jazz bertemu dengan samba di Brasil, lahirlah Bossa Nova Jazz Samba. Jazz di zaman rock melahirkan jazz rock.

Kekayaan musik etnis di Indonesia akan sangat terwadahi, terakomodasi di dalam Jazz Gunung. Elemen etnis di Jawa Timur, menyebut beberapa saja seperti Madura, Banyuwangi, Ponorogo sangat menawan dan potensial untuk diajak berdialog secara kreatif dalam forum Jazz Gunung. Seniman seperti Djaduk Ferianto dengan Kua Etnika-nya, Wayan Balawan dengan Batuan Ethnic Fusion, kelompok Simak Dialog, Krakatau adalah beberapa contoh orang-orang kreatif yang mampu mengakomodasikan elemen etnis dalam wadah musik seperti yang diamanatkan jazz. Kekuatan jazz dalam berinteraksi ini tak ada yang mampu membendung, bahkan ketika jazz itu sampai ke gunung.

Frans Sartono, Wartawan Senior, Pemerhati Musik.