Mengapa Jazz?
Mengapa jazz? Apakah jazz tidak terkesan menyimpang dengan kultur masyarakat sekitar Bromo? Apakah jazz tidak akan menjadi benda asing bagi masyarakat setempat?
Jazz dipilih justru karena jazz bersifat sangat luwes, lentur dan terbuka terhadap setiap kemungkinan. Secara ekstrem dapat dikatakan, jazz bukan ”genre” tapi sikap bermusik yang terbuka dalam mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan kreatif. Hal itu sudah menjadi ciri wanci jazz sejak sebutan jazz dikenal.
Dari sisi manusia pelakunya, misalnya, jazz terbuka bagi siapa saja. Jazz bersifat lintas etnis, suku, kebangsaan. Dengan demikian ada sifat pemersatu dari jazz. Jazz lahir dari persimpangan budaya. Tempat persimpangan budaya yang melahirkan jazz kebetulan di Amerika. Persimpangan budaya semacam itu akan akan terjadi dimana saja di dunia dan jazz menjadi wadah yang nyaman akomodatif dari pertemuan budaya.
Dalam sejarah kelahirannya, jazz dimainkan oleh orang dari beragam ras. Perintisnya adalah orang keturunan Afrika di Amerika. Jazz dimainkan orang-orang keturunan afro-amerika seperti Louis Armstrong, Charlie Parker, Miles Davis, John Coltrane. Jazz juga menarik minat musisi George Gershwin, Benny Goodman, Gypsy (Django Reinhardt), dan lainnya.
Dari instrumentasi, misalnya, jazz sangat terbuka untuk di-”bunyi-”kan. Jazz tidak membatasi alat musik tertentu. Pada masa-masa awal alat musik banjo digunakan para budak untuk memainkan musik improvisatif yang menjadi salah satu embrio jazz. Kemudian alat tiup seperti trumpet, trombon, digunakan karena alat musik itulah yang mudah didapat karena sudah lazim digunakan dalam parade militer. Belakangan biola masuk dengan virtuoso seperi Joe Venutti. Juga harpa yang menghasilkan jazzer seperti Deborah Hanson. Berimbau, perkusi tradisional Brasil masuk dalam jazz. Trilok Gurtu dari India membawa tabla ke alam jazz.
Jazz sejak lahir pada awal abad 19 juga terus berubah sesuai eksplorasi pelakuknya. Salah satu kredo jazz seperti yang digariskan Miles Davis seperti halnya alam raya jazz akan berubah. ”Kalau tidak ingin berubah, main saja di museum.” Itu ucapan Miles davis (1926–1991).
Miles membuktikan ucapannya. Ia bermain jazz bebop pada era 1940-an. Menjelang akhir 1940-an ia merintis apa yang dikenal sebagai cool jazz yang secara konsep berbeda dengan bebop. Akhir 1960-an ia memperkenalkan jazz rock bersama John McLaughlin, Zoe Zawinoel, Wayne Shorter dan kawan-kawan. Menjelang akhir hayat pada 1991, ia bermain bersama musisi hiphop.
